Penyebab Inflasi di Indonesia: Masa Kemerdekaan vs Saat Ini

Irwin Andriyanto

Harga beras naik, ongkos transportasi ikut mahal, lalu belanja bulanan terasa lebih berat. Kondisi seperti ini sering membuat banyak orang bertanya: sebenarnya apa penyebab inflasi di Indonesia?

Masalah inflasi bukan hal baru. Sejak masa awal kemerdekaan, Indonesia sudah menghadapi tekanan harga akibat kekacauan mata uang, kas negara kosong, dan blokade ekonomi. Bedanya, penyebab inflasi saat ini lebih banyak datang dari harga pangan, energi, transportasi, nilai tukar, biaya produksi, dan kondisi ekonomi global.

Memahami penyebab inflasi penting karena dampaknya langsung terasa dalam kehidupan sehari-hari. Saat harga naik secara luas, uang yang sama bisa membeli barang lebih sedikit. Akibatnya, daya beli masyarakat turun dan biaya hidup menjadi lebih berat.

Apa Itu Inflasi?

Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dalam periode tertentu. Kenaikan harga satu atau dua barang belum tentu disebut inflasi. Namun, jika kenaikan terjadi pada banyak kelompok kebutuhan dan berlangsung cukup luas, kondisi itu dapat disebut inflasi.

Inflasi biasanya diukur melalui Indeks Harga Konsumen atau IHK. Indeks ini menggambarkan perubahan harga berbagai barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat, seperti makanan, minuman, transportasi, pendidikan, kesehatan, perumahan, dan kebutuhan pribadi.

Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik atau BPS, inflasi tahunan Indonesia pada April 2026 berada di level 2,42% year-on-year. Inflasi bulanan pada periode yang sama sebesar 0,13%, sedangkan inflasi tahun kalender mencapai 1,06%.

Angka tersebut masih berada dalam sasaran inflasi pemerintah dan Bank Indonesia. Bank Indonesia menetapkan sasaran inflasi 2025–2027 sebesar 2,5% dengan deviasi plus minus 1%. Artinya, inflasi saat ini masih terkendali, tetapi tetap perlu dijaga karena beberapa komoditas dapat mendorong kenaikan harga sewaktu-waktu.

Jenis-Jenis Inflasi yang Sering Terjadi di Indonesia

Faktor utama penyebab inflasi di Indonesia terhadap daya beli
Faktor utama penyebab inflasi di Indonesia terhadap daya beli

Sebelum membandingkan penyebab inflasi dulu dan sekarang, penting untuk memahami beberapa jenis inflasi yang sering digunakan dalam analisis ekonomi Indonesia. Pembagian ini membantu pembaca melihat sumber tekanan harga secara lebih jelas.

1. Inflasi Inti

Inflasi inti adalah inflasi yang dipengaruhi oleh kondisi permintaan dan penawaran secara umum, ekspektasi inflasi, serta faktor ekonomi yang lebih mendasar. Jenis inflasi ini biasanya tidak memasukkan harga barang yang sangat mudah berubah atau harga yang diatur pemerintah.

Contohnya, kenaikan harga sewa rumah, jasa pendidikan, layanan kesehatan, atau barang konsumsi tertentu dapat memengaruhi inflasi inti jika terjadi secara luas dan berkelanjutan.

2. Volatile Food

Volatile food adalah kelompok harga pangan yang mudah berubah. Di Indonesia, kelompok ini sering menjadi perhatian karena sangat dekat dengan kebutuhan harian masyarakat.

Contoh komoditasnya adalah beras, cabai, bawang merah, bawang putih, telur ayam, daging ayam, ikan segar, dan minyak goreng. Harga kelompok ini bisa naik karena cuaca buruk, panen terganggu, distribusi tersendat, atau permintaan meningkat menjelang hari besar.

3. Administered Prices

Administered prices adalah kelompok harga yang dipengaruhi atau diatur oleh pemerintah. Contohnya BBM tertentu, tarif listrik, gas, tarif angkutan, dan cukai rokok.

Jika harga dalam kelompok ini naik, dampaknya bisa merembet ke banyak sektor. Kenaikan tarif transportasi, misalnya, dapat memengaruhi biaya distribusi barang dan akhirnya ikut mendorong harga di pasar.

4. Imported Inflation

Imported inflation terjadi ketika tekanan inflasi berasal dari luar negeri. Penyebabnya bisa berupa kenaikan harga komoditas global, pelemahan nilai tukar rupiah, atau naiknya biaya impor bahan baku.

Jika rupiah melemah terhadap dolar AS, barang impor dan bahan baku impor dapat menjadi lebih mahal. Kenaikan biaya ini kemudian bisa diteruskan ke harga jual produk di dalam negeri.

Penyebab Inflasi di Indonesia pada Masa Awal Kemerdekaan

Kondisi inflasi pada masa awal kemerdekaan berbeda jauh dengan kondisi saat ini. Saat itu, Indonesia baru berdiri sebagai negara merdeka dan belum memiliki sistem keuangan yang stabil.

Pemerintah harus menghadapi masalah besar dalam waktu bersamaan: kas negara kosong, perang mempertahankan kemerdekaan, produksi terganggu, perdagangan diblokade, dan banyak mata uang beredar di masyarakat.

1. Banyak Mata Uang Beredar di Masyarakat

Salah satu penyebab utama inflasi pada masa awal kemerdekaan adalah banyaknya mata uang yang beredar. Indonesia belum langsung memiliki mata uang nasional yang kuat setelah proklamasi.

Beberapa jenis uang masih digunakan masyarakat, antara lain uang De Javasche Bank, uang pemerintah Hindia Belanda, uang Jepang, dan kemudian uang NICA. Banyaknya mata uang membuat sistem pembayaran kacau karena nilai tiap uang tidak sama dan sulit dikendalikan.

Situasi ini membuat jumlah uang beredar meningkat tanpa diimbangi ketersediaan barang. Akibatnya, harga barang naik dan kepercayaan masyarakat terhadap uang menjadi lemah.

2. Peredaran Uang Jepang yang Terlalu Besar

Pada awal kemerdekaan, uang Jepang masih banyak beredar di Indonesia. Jumlahnya sangat besar dan sulit dikendalikan oleh pemerintah Republik yang baru terbentuk.

Kondisi semakin buruk ketika NICA dan Sekutu masuk ke sejumlah kota besar, menguasai bank-bank Jepang, lalu ikut mengedarkan uang Jepang. Uang tersebut digunakan untuk membiayai operasi dan membayar pegawai, sehingga peredaran uang makin membengkak.

Saat uang beredar terlalu banyak, sementara barang langka dan produksi belum pulih, harga mudah melonjak. Inilah salah satu bentuk inflasi yang sangat kuat pada masa awal kemerdekaan.

3. Munculnya Uang NICA

NICA menerbitkan uang sendiri pada 1946. Uang ini dikenal masyarakat sebagai “uang merah”. Kehadiran uang NICA menambah rumit kondisi moneter Indonesia karena uang tersebut bersaing dengan uang lain yang sudah beredar.

Bagi Republik Indonesia, uang NICA bukan hanya masalah ekonomi, tetapi juga masalah kedaulatan. Peredaran uang NICA membuat jumlah uang di pasar semakin besar dan memperlemah posisi pemerintah dalam mengendalikan sistem pembayaran.

Pemerintah kemudian menerbitkan Oeang Repoeblik Indonesia atau ORI yang resmi berlaku pada 30 Oktober 1946. ORI tidak hanya berfungsi sebagai alat pembayaran, tetapi juga menjadi simbol kedaulatan ekonomi Indonesia.

4. Kas Negara Kosong

Setelah merdeka, pemerintah Indonesia belum memiliki sumber pendapatan yang stabil. Sistem pajak belum berjalan baik, kegiatan ekspor-impor terganggu, dan banyak aset ekonomi masih berada dalam situasi konflik.

Di sisi lain, pengeluaran negara sangat besar. Pemerintah harus membiayai administrasi negara, pertahanan, diplomasi, logistik, dan berbagai kebutuhan darurat.

Kondisi kas negara yang kosong membuat pemerintah kesulitan menjaga stabilitas ekonomi. Ketika kebutuhan negara meningkat tetapi pendapatan terbatas, tekanan terhadap sistem keuangan menjadi semakin berat.

5. Blokade Ekonomi oleh Belanda

Blokade ekonomi Belanda juga menjadi penyebab inflasi pada masa awal kemerdekaan. Blokade membuat Indonesia sulit melakukan perdagangan luar negeri, termasuk ekspor hasil bumi.

Akibatnya, pemasukan negara turun. Barang-barang impor juga sulit masuk, sehingga pasokan dalam negeri semakin terbatas.

Saat pasokan barang menurun, sementara kebutuhan masyarakat tetap tinggi, harga-harga cenderung naik. Blokade ini membuat masalah inflasi tidak hanya berasal dari uang beredar, tetapi juga dari kelangkaan barang.

6. Produksi dan Distribusi Barang Terganggu

Perang mempertahankan kemerdekaan membuat kegiatan produksi tidak berjalan normal. Banyak jalur distribusi terganggu, wilayah ekonomi terpecah, dan keamanan belum stabil.

Petani, pedagang, dan pelaku usaha tidak dapat bekerja seperti biasa. Barang yang tersedia di satu daerah belum tentu bisa dikirim ke daerah lain.

Gangguan produksi dan distribusi membuat harga barang kebutuhan naik. Kondisi ini memperparah inflasi yang sudah terjadi akibat banyaknya uang beredar.

Penyebab Inflasi di Indonesia Saat Ini

Inflasi Indonesia saat ini tidak lagi disebabkan oleh kekacauan mata uang seperti masa awal kemerdekaan. Sistem moneter sudah jauh lebih kuat karena ada Bank Indonesia, kebijakan fiskal pemerintah, data inflasi rutin, dan koordinasi pengendalian harga melalui pusat maupun daerah.

Namun, inflasi tetap bisa terjadi. Penyebabnya lebih banyak berasal dari permintaan masyarakat, biaya produksi, harga pangan, harga energi, nilai tukar rupiah, dan kebijakan harga yang diatur pemerintah.

1. Kenaikan Harga Pangan

Harga pangan masih menjadi salah satu penyebab inflasi paling sensitif di Indonesia. Beras, telur ayam, daging ayam, cabai, bawang, minyak goreng, dan ikan segar termasuk komoditas yang sering memengaruhi inflasi.

Pangan sangat berpengaruh karena dikonsumsi hampir semua rumah tangga. Kenaikan kecil pada harga pangan dapat terasa besar bagi keluarga berpendapatan rendah.

Menurut rilis BPS April 2026, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi salah satu pendorong utama inflasi tahunan. Beberapa komoditas yang banyak memberi tekanan antara lain ikan segar, daging ayam ras, beras, minyak goreng, sigaret kretek mesin, dan telur ayam ras.

2. Biaya Produksi yang Naik

Inflasi juga dapat terjadi ketika biaya produksi meningkat. Kondisi ini sering disebut cost-push inflation.

Biaya produksi bisa naik karena harga bahan baku meningkat, ongkos distribusi lebih mahal, upah tenaga kerja naik, biaya energi bertambah, atau bahan impor menjadi lebih mahal akibat pelemahan rupiah.

Contohnya, ketika harga BBM atau ongkos kirim naik, pedagang perlu mengeluarkan biaya lebih besar untuk membawa barang ke pasar. Biaya tambahan itu biasanya ikut masuk ke harga jual.

Saat biaya produksi naik, pelaku usaha biasanya menyesuaikan harga jual agar tetap bisa menutup biaya. Jika kenaikan ini terjadi di banyak sektor, inflasi dapat meningkat.

3. Permintaan Masyarakat Meningkat

Inflasi juga dapat terjadi ketika permintaan masyarakat naik lebih cepat daripada ketersediaan barang. Kondisi ini sering disebut demand-pull inflation.

Contohnya terlihat saat periode Ramadan, Lebaran, libur panjang, atau musim belanja tertentu. Permintaan terhadap bahan pangan, tiket transportasi, pakaian, dan kebutuhan rumah tangga biasanya meningkat.

Misalnya menjelang Lebaran, banyak orang membeli bahan makanan, tiket perjalanan, pakaian, dan kebutuhan rumah tangga dalam waktu bersamaan. Jika stok barang tidak cukup, harga bisa naik lebih cepat.

Jika pasokan tidak siap mengikuti kenaikan permintaan, harga barang dan jasa bisa naik. Karena itu, pemerintah biasanya memperkuat distribusi dan pasokan menjelang periode permintaan tinggi.

4. Harga Energi dan Transportasi

Harga energi dan transportasi juga dapat memengaruhi inflasi. Kenaikan harga BBM, tarif listrik, gas, atau tarif angkutan dapat membuat biaya hidup dan biaya produksi ikut naik.

Dampaknya tidak hanya terasa pada pengguna langsung. Kenaikan biaya transportasi dapat membuat ongkos distribusi barang meningkat, lalu harga barang di pasar ikut terdorong naik.

Berdasarkan data BPS, tarif angkutan udara termasuk salah satu komoditas yang ikut memberi andil terhadap inflasi tahunan pada April 2026. Ini menunjukkan bahwa sektor transportasi tetap perlu diperhatikan dalam pengendalian inflasi.

5. Pelemahan Nilai Tukar Rupiah

Nilai tukar rupiah dapat memengaruhi inflasi melalui harga barang impor. Jika rupiah melemah, biaya impor bahan baku, bahan pangan, mesin, obat-obatan, atau produk jadi dapat menjadi lebih mahal.

Kenaikan harga barang impor ini dapat merembet ke harga di tingkat konsumen. Dampaknya biasanya terasa pada produk yang banyak menggunakan komponen impor.

Fenomena ini sering disebut imported inflation. Tekanan seperti ini dapat muncul ketika harga komoditas global naik, dolar AS menguat, atau kondisi geopolitik dunia membuat pasar keuangan tidak stabil.

6. Harga Emas Perhiasan

Tren terbaru yang cukup menonjol pada 2026 adalah pengaruh harga emas perhiasan terhadap inflasi. Emas perhiasan masuk dalam kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya.

Dalam rilis BPS April 2026, emas perhiasan menjadi salah satu komoditas yang memberi andil besar terhadap inflasi tahunan. Kenaikan harga emas dapat dipengaruhi oleh harga emas global, nilai tukar, dan minat masyarakat terhadap emas sebagai aset lindung nilai.

Kondisi ini menarik karena inflasi tidak selalu datang dari bahan makanan atau energi. Barang yang berkaitan dengan gaya hidup dan aset juga dapat memengaruhi angka inflasi nasional.

7. Cuaca Ekstrem dan Ketahanan Pangan

Perubahan cuaca menjadi faktor yang semakin penting dalam pembahasan inflasi. Hujan berlebih, kekeringan, banjir, atau gangguan musim tanam dapat memengaruhi produksi pangan.

Jika produksi beras, cabai, bawang, atau komoditas hortikultura terganggu, pasokan di pasar bisa turun. Saat pasokan turun, harga cenderung naik.

Karena itu, pengendalian inflasi saat ini tidak cukup hanya melalui kebijakan moneter. Ketahanan pangan, irigasi, logistik, penyimpanan, dan distribusi antardaerah juga menjadi bagian penting dari strategi menjaga harga.

8. Ekspektasi Inflasi Masyarakat

Ekspektasi masyarakat juga dapat mendorong inflasi. Jika banyak orang memperkirakan harga akan naik, mereka bisa membeli barang lebih banyak dari kebutuhan normal.

Perilaku ini dapat membuat permintaan meningkat mendadak. Jika dilakukan banyak orang, stok barang menipis dan harga naik lebih cepat.

Karena itu, komunikasi publik dari pemerintah, Bank Indonesia, dan pelaku usaha menjadi penting. Informasi yang jelas dapat mencegah kepanikan dan membantu masyarakat mengambil keputusan belanja secara lebih rasional.

Perbedaan Inflasi Masa Kemerdekaan dan Saat Ini

Inflasi pada masa awal kemerdekaan dan inflasi saat ini memiliki penyebab yang berbeda. Perbedaannya dapat dilihat dari sistem moneter, kondisi politik, sumber tekanan harga, dan kemampuan pemerintah mengendalikan ekonomi.

AspekMasa Awal KemerdekaanSaat Ini
Sistem moneterBelum stabil, banyak mata uang beredarLebih tertata dengan Rupiah dan Bank Indonesia
Penyebab utamaUang beredar berlebihan, NICA, kas kosong, blokadePangan, energi, transportasi, nilai tukar, biaya produksi
Kondisi politikPerang mempertahankan kemerdekaanNegara stabil dengan sistem ekonomi modern
Distribusi barangTerganggu oleh konflik dan blokadeLebih baik, tetapi masih terpengaruh logistik dan cuaca
Pengendalian inflasiTerbatas karena lembaga negara baru terbentukDilakukan lewat kebijakan moneter, fiskal, dan koordinasi pusat-daerah

Perbedaan ini menunjukkan bahwa inflasi bukan masalah tunggal. Setiap masa memiliki penyebab yang berbeda, sehingga cara mengatasinya juga tidak sama.

Contoh Inflasi dalam Kehidupan Sehari-hari

Inflasi paling mudah dirasakan dari pengeluaran harian. Misalnya, harga beras, telur, minyak goreng, dan ongkos transportasi naik dalam waktu berdekatan.

Jika sebelumnya belanja mingguan cukup Rp300.000, saat inflasi jumlah yang sama mungkin hanya bisa membeli barang lebih sedikit. Barang yang masuk keranjang belanja berkurang, meskipun uang yang dikeluarkan tetap sama atau bahkan lebih besar.

Dampaknya juga terasa pada pelaku usaha kecil. Ketika harga bahan baku naik, mereka harus memilih antara menaikkan harga jual, mengurangi ukuran produk, atau menekan keuntungan.

Contoh sederhana ini menunjukkan bahwa inflasi bukan sekadar angka ekonomi. Inflasi langsung memengaruhi cara keluarga mengatur belanja dan cara pelaku usaha menjaga bisnis tetap berjalan.

Cara Pemerintah Mengendalikan Inflasi

Pengendalian inflasi tidak hanya menjadi tugas Bank Indonesia. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat juga memiliki peran.

1. Kebijakan Moneter Bank Indonesia

Bank Indonesia menjaga inflasi melalui kebijakan moneter. Salah satu instrumennya adalah suku bunga acuan.

Jika tekanan inflasi tinggi, BI dapat memperketat kebijakan moneter agar permintaan tidak tumbuh terlalu cepat. Sebaliknya, jika inflasi terlalu rendah dan ekonomi perlu dorongan, kebijakan dapat dibuat lebih longgar dengan tetap menjaga stabilitas rupiah.

2. Menjaga Pasokan Pangan

Pemerintah perlu memastikan pasokan pangan tersedia cukup. Ini bisa dilakukan melalui peningkatan produksi, penguatan cadangan pangan, distribusi antardaerah, dan operasi pasar saat harga terlalu tinggi.

Langkah ini penting karena inflasi pangan sangat cepat terasa oleh masyarakat. Harga beras, telur, cabai, atau minyak goreng yang naik tajam dapat langsung menekan pengeluaran rumah tangga.

3. Menjaga Kelancaran Distribusi

Barang yang tersedia di daerah produksi belum tentu langsung sampai ke daerah konsumsi. Karena itu, distribusi menjadi faktor penting dalam pengendalian inflasi.

Perbaikan jalan, pelabuhan, cold storage, gudang, transportasi logistik, dan koordinasi antardaerah dapat membantu menekan biaya distribusi. Jika distribusi lancar, selisih harga antarwilayah bisa lebih terkendali.

4. Mengelola Harga yang Diatur Pemerintah

Beberapa harga barang dan jasa diatur atau dipengaruhi oleh pemerintah, seperti BBM tertentu, listrik, gas, tarif transportasi, dan cukai rokok.

Penyesuaian harga di kelompok ini perlu dilakukan dengan hati-hati. Jika kenaikannya terlalu besar dan dilakukan mendadak, inflasi dapat terdorong naik.

5. Memperkuat Data dan Koordinasi Daerah

Inflasi tidak selalu sama di setiap wilayah. Ada daerah yang mengalami inflasi tinggi karena gangguan pasokan lokal, sementara daerah lain lebih stabil.

Karena itu, data inflasi daerah dan koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah sangat penting. Pemerintah daerah perlu memahami komoditas apa yang paling sering mendorong harga naik di wilayahnya.

Catatan tentang P2P Lending dalam Menghadapi Tekanan Ekonomi

P2P lending tidak tepat disebut sebagai solusi langsung untuk menurunkan inflasi nasional. Inflasi adalah masalah makroekonomi yang dipengaruhi oleh pasokan barang, permintaan masyarakat, uang beredar, nilai tukar, biaya produksi, dan kebijakan pemerintah.

Namun, P2P lending dapat berperan sebagai salah satu opsi pembiayaan produktif jika digunakan dengan hati-hati. Bagi pelaku usaha, pendanaan ini bisa membantu modal kerja, pembelian bahan baku, atau pengembangan usaha.

Meski begitu, risikonya tetap perlu dipahami. Otoritas Jasa Keuangan atau OJK menegaskan bahwa masyarakat sebaiknya hanya menggunakan platform yang berizin, memahami bunga atau imbal hasil, membaca syarat layanan, dan menyesuaikan pinjaman dengan kemampuan membayar.

Dengan kata lain, P2P lending bisa membantu sebagian pelaku usaha dari sisi pembiayaan. Namun, pengendalian inflasi tetap membutuhkan kebijakan ekonomi yang lebih luas, mulai dari pasokan pangan, distribusi, stabilitas nilai tukar, hingga koordinasi pemerintah pusat dan daerah.

Kesimpulan

Penyebab inflasi di Indonesia pada masa kemerdekaan dan saat ini sangat berbeda. Pada masa awal kemerdekaan, inflasi terjadi karena banyak mata uang beredar, belum kuatnya sistem moneter nasional, peredaran uang Jepang dan uang NICA, kas negara kosong, blokade ekonomi, serta gangguan produksi dan distribusi.

Saat ini, inflasi lebih banyak dipengaruhi oleh harga pangan, biaya produksi, energi, transportasi, nilai tukar rupiah, harga emas perhiasan, cuaca ekstrem, dan ekspektasi masyarakat. Data April 2026 menunjukkan inflasi tahunan Indonesia berada di level 2,42%, masih dalam sasaran inflasi yang ditetapkan pemerintah dan Bank Indonesia.

Inflasi perlu dijaga agar daya beli masyarakat tetap kuat dan kegiatan ekonomi berjalan stabil. Pemerintah berperan melalui kebijakan moneter, fiskal, pasokan pangan, dan distribusi. Masyarakat dapat membantu dari sisi pengelolaan keuangan pribadi, konsumsi yang bijak, serta penggunaan layanan keuangan yang aman dan legal.

FAQ

Apa penyebab inflasi terbesar di Indonesia saat ini?

Penyebab inflasi terbesar dapat berubah setiap periode. Pada 2026, tekanan inflasi banyak dipengaruhi oleh harga pangan, emas perhiasan, biaya transportasi, dan beberapa komoditas yang harganya bergerak mengikuti pasokan serta kondisi global.

Mengapa inflasi pada masa kemerdekaan sangat berat?

Inflasi pada masa kemerdekaan berat karena Indonesia belum memiliki sistem moneter yang stabil. Banyak mata uang beredar, uang Jepang jumlahnya sangat besar, NICA menerbitkan uang sendiri, kas negara kosong, dan perdagangan terganggu akibat blokade.

Apakah mencetak uang selalu menyebabkan inflasi?

Mencetak uang dapat memicu inflasi jika jumlah uang yang beredar bertambah terlalu besar tanpa diimbangi kenaikan produksi barang dan jasa. Namun, inflasi juga bisa disebabkan oleh faktor lain seperti kenaikan biaya produksi, gangguan pasokan, dan pelemahan nilai tukar.

Apakah inflasi selalu buruk?

Inflasi tidak selalu buruk jika berada pada level rendah dan stabil. Inflasi moderat dapat menunjukkan ekonomi bergerak. Masalah muncul ketika inflasi terlalu tinggi, terlalu cepat, atau tidak seimbang dengan kenaikan pendapatan masyarakat.

Bagaimana cara melindungi keuangan dari inflasi?

Cara paling praktis adalah mengatur anggaran, menyiapkan dana darurat, mengurangi pengeluaran tidak penting, meningkatkan penghasilan, dan memilih instrumen investasi sesuai profil risiko. Tujuannya agar nilai uang dan daya beli tidak turun terlalu jauh.

Referensi

Badan Pusat Statistik. “Inflasi year-on-year pada April 2026 sebesar 2,42 persen.” Berita Resmi Statistik, 4 Mei 2026.

Bank Indonesia. “Inflasi.” Bank Indonesia, 2026.

Bank Indonesia. “Target Inflasi.” Bank Indonesia, 2026.

Bank Indonesia. “Duel Uang Merah Vs Uang Putih.” Cerita BI, 2020.

Bank Indonesia. “Koleksi Museum: Uang Awal Kemerdekaan RI.” Museum Bank Indonesia.

Otoritas Jasa Keuangan. “Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi.” OJK.

Otoritas Jasa Keuangan. “Penyelenggara Fintech Lending Berizin di OJK per 31 Januari 2025.” OJK, 2025.

Baca Juga:

Bagikan:

Irwin Andriyanto

Sebagai lulusan Teknik Informatika Universitas Serang Raya, Irwin Andriyanto memiliki ketertarikan pada perkembangan teknologi, tools digital, gadget, dan keamanan internet. Ia menulis dengan pendekatan yang praktis agar pembaca bisa memahami isu teknologi dengan lebih mudah dan menggunakannya secara lebih bijak.

Tinggalkan komentar